Halo Sobat... Kita bertemu lagi di YH Ensiklopedia.. Kali ini saya akan memberikan informasi yg pastinya unik, menarik dan bermanfaat bagi sobat-sobat semua,, selamat membaca iiyyaaaaa....!!!!!:)
Impian kita sebagai seorang gamer sebenarnya sangat sederhana jika
membicarakan masalah film adaptasi ini. Kita hanya menginginkan film
yang benar-benar menggambarkan judul yang disandangnya. Jika memang bisa
menyesuaikan plot, sesuaikanlah! Jika mampu menciptakan karakter yang
mirip, ciptakanlah! Akan lebih baik lagi jika sampai mampu menghasilkan
pengalaman yang sama seperti saat memainkannya. Tetapi, apa yang
justru sering kita dapatkan? Kekecewaan besar.
Sulit sekali menemukan film adaptasi game, khususnya yang berasal dari
Hollywood yang berakhir dengan rasa puas para gamer yang menontonnya.
Kebanyakan yang hadir justru mendapatkan pembelokan plot dan karakter
yang membuat keseluruhan cerita menjadi kacau balau. Apakah sebegitu
sulitnya menciptakan sebuah film yang sesuai dengan gamenya? Berikut 7
Film Adaptasi Game Terburuk Dalam Sejarah, yaitu :
Final Fantasy : Spirits Within
Saya tidak tahu apa yang ada di kepala Square ketika merilis film
ini. Berani membawa nama Final Fantasy, berarti berani menghadirkan apa
yang tergambarkan di semua kepala gamer. Apa yang gamer pikirkan
ketika mendengar nama Final Fantasy? Saya sudah membayangkan Bahamut
berukuran besar, theme song, limit break, dan elemen RPG yang kental.
Namun, apa yang gamer dapatkan ketika film ini dirilis? Sebuah tanda
tanya terbesar di dunia. Tidak ada kaitan sama sekali dengan seri game
Final Fantasy, tidak ada sedikit pun. Yang saya sukai dari film ini
hanya satu, soundtrack dari Lar’c en Ciel.
Max Payne
Max Payne adalah salah satu karakter paling cool, namun sekaligus
kontroversial di dunia game. Ketika saya mendengar akan ada versi
filmnya, saya mulai membayangkan kekejaman Payne yang dipadukan dengan
skill bullet time-nya yang fenomenal. Apalagi dibintangi oleh Mark
Wahlberg yang kualitas aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Namun, apa
yang saya dapatkan? Sebuah film yang membuat saya hampir tertidur di
bioskop. Plot yang aneh, aksi yang sangat sedikit, scene bullet time
yang sangat singkat; sama sekali tidak ada yang menggambarkan Max Payne
di sini.
Hitman
Botak dengan tatapan yang tajam layaknya elang yang mencari
mangsa. Agent 47 siap membunuh siapa saja yang ditugaskan organisasi
kepadanya. Membayangkan game Hitman yang selalu mampu menghadirkan
ketegangan dan ras was-was sepanjang permainan, saya berangkat untuk
menikmati film berjudul sama ala Hollywood di bioskop. Kekecewaan saya
bahkan sudah dimulai dari casting yang dipilih. Sang pria yang
memerankan Agent 47 malah terlihat terlalu “pretty boy”, tanpa ada
kesan cool dan kejam. 47 yang seharusnya membunuh secara diam-diam ini
juga malah sering terlibat kontak senjata terbuka di filmnya. Sangat
bertolak belakang dengan game yang boleh terbilang sudah berhasil
dibangun dengan sempurna. Saya malah melihat film ini lebih mirip
film-film The Transporter dibandingkan Hitman.
Resident Evil
Ini mungkin film adaptasi game terburuk yang masih menyisakan
banyak tanda tanya di benak saya pribadi. Pertanyaan terbesarnya
adalah: mengapa orang-orang masih singgah ke bioskop dan menonton film
ini, membuatnya berkembang menjadi sebuah sekuel tanpa mutu? Resident
Evil 1 dan 2 mungkin merupakan puncak kejayaan seri ini. Walaupun
karakter utamanya, Alice, tidak pernah muncul di versi video gamenya,
saya masih melihatnya sebagai serial spin-off yang sangat menarik.
Namun, ketika Resident Evil Extinction dan Afterlife lahir dengan plot
yang terasa sangat dipaksakan, film ini tampak “murahan”. Aksi yang
sedikit, cerita tidak jelas, akting yang buruk. Saya lebih jatuh cinta
dengan Resident Evil versi CGI-nya Capcom.
Dead or Alive
Ini adalah sebuah dilema. Dead or Alive memang film yang sangat
buruk. Jalinan cerita di dalam film plus pertarungan yang dihadirkan
harus diakui memang kelas rendahan. Visualisasi karakternya juga
mengecewakan, apalagi karakter Kasumi benar-benar tampak jauh berbeda.
Karena hal tersebut, saya memasukkan film ini ke dalam list. Namun
harus diakui, Dead or Alive versi film ini mampu menghadirkan
pengalaman yang sering dirasakan oleh pria ketika memainkan game ini.
Sensualitas yang dijual membuat saya cukup menikmati film ini hingga
akhir.
Street Fighter: The Legend of Chun-Li
Film ini seharusnya tidak pernah lahir sama sekali. Setelah Street
Fighter zaman dulu yang terbilang buruk, saya menaruh harapan yang
cukup besar kepada Street Fighter: The Legend of Chun Li yang tentunya
hadir dengan teknik dan teknologi yang sudah jauh lebih berkembang.
Apalagi, rencana untuk menghadirkan “plot” Street Fighter dalam lingkup
dunia nyata juga tampil sangat menarik. Namun, apa yang dibawa oleh
film ini? Film aksi; itu saja. Sebagai seorang gamer, saya tidak
merasakan apa pun yang terkait dengan Street Fighter. Mengecewakan!
King of Fighters
Lagi-lagi sebuah film berdasarkan genre fighting yang harus masuk
ke dalam list. King of Fighters buatan SNK merupakan game fighting
legendaris dan fenomenal. Siapa yang tidak mengenal Mai Shiranui? Atau
Andy dan Terry Boggard? Hampir semua gamer mengenal mereka. Tetapi,
ketika nama besar seperti ini harus jatuh ke tangan Hollywood? Saya
bahkan hampir menutup mata saat harus menontonnya. King of Fighters
versi movie ini sama sekali tidak dapat dinikmati. Akting buruk,
karakter yang jelek, plot yang aneh luar biasa. Dua jempol ke bawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
hey sobat,, kalau mou comment yg berhubungan dengan artikel aja yaaa...!!!
commentar yg mengarah ke tindakan spam akan dihapus / terjaring secara otomatis oleh spam filter